Tentang Mimpi dan Obsesi
Judul ini terinspirasi dari
konferensi pers idola saya Jose Mourinho di tahun 2010. Kala itu, Mou melatih Inter
Milan dan menghadapi Barca di semifinal UCL. Pada satu sesi wawancara pers sehari
sebelum match day, Mou ditanya pendapatnya soal bermain di final. Akhirnya keluar
pernyataan yang menurut saya dapat dimasukkan dalam quote-quote inspirasional
di dunia sepakbola (tentu bagian Gattuso yang sometimes maybe good,
sometimes maybe shit juga harus masuk list wkwkwk).
Secara lengkap sesi konpers
tersebut bisa dilihat di sini
Sudah menjadi ciri khas dari pria Portugal itu untuk berperang kata-kata sebelum perang sesungguhnya di atas lapangan hijau. Rumus pernyataan Mou tentu membakar semangat anak asuh sekaligus membakar amarah lawan. Mou bilang jika Inter bermain di final itu akan menjadi mimpi anak asuhnya, tak lupa juga bilang kalau bagi Barca bermain di final merupakan obsesi. Bagi Mou, sebuah mimpi lebih murni dari obsesi.
Mou seperti menempatkan anak
asuhnya pada situasi yang “asor”, menganggap bahwa masuk final bagi Inter adalah
mimpi. Sebuah situasi yang diinginkan Inter karena terakhir kali mereka main di
final UCL adalah tahun 1972 dan kalah.
Mimpi itu kan sesuatu yang tinggi, dicita-citakan, diperjuangkan, dan coba diwujudkan
dengan semua sumber daya yang ada.
Di sisi lain, Mou juga menembak
Barca. Bagi Mou motif Barca untuk masuk final merupakan obsesi. Obsesi menjadi
juara dan mengibarkan panji mereka di kandang musuh utama. Kebetulan laga final
UCL 2010 digelar di Santiago Bernabeu yang merupakan markas Real Madrid. Pasti
jadi momen monumental kan ya mengangkat piala di kandang rival abadi.
Quote Mou saya anggap bagus
karena termasuk universal dan dapat dikeluarkan dari konteks sepak bola saja.
Dalam kehidupan sehari-hari kita juga punya mimpi dan obsesi. Bangsa Indonesia
saja punya mimpi seperti dalam pembukaan UUD, apalagi kita yang manusia ya
hehe.
Jika merujuk pada pernyataan Mou,
mimpi dengan obsesi tentu berbeda. Mimpi lebih internal, fokus pada diri
sendiri dan diikuti dengan pemetaan potensi untuk mencapainya. Beda dengan
obsesi, ada faktor harus membuktikan pada pihak luar.
Salah satu contoh adalah mimpi
menjadi pegawai negeri dengan obsesi menjadi pegawai negeri. Orang menjadi
pegawai negeri karena punya mimpi untuk memperbaiki nasib, mengejar cita-cita
membangun bangsa, maupun hal-hal luhur lain yang sering kita dapati di buku
motivasi.
Menjadi hal yang berbeda jika
orang berobsesi menjadi pegawai negeri karena ingin mencari pengakuan orang
lain. Atau mau pamer pada tetangga karena dihina-hina dan sebagai wujud “saya
akan lawan” hinaan-hinaan tersebut.
Yang menjadi pertanyaan, sejauh
mana mimpi dan obsesi itu mengilhami dan menjadi sumber bahan bakar tindakan
kita? Apakah selama ini yang kita lakukan adalah untuk mencapai mimpi? Atau malah
menjadi bagian dari obsesi kita untuk membuktikan pada Si A si B. Tentu, dari
dalam lubuk hati kita sendiri yang bisa menjawabnya.
Selesai sudah
Dab Pandu
Komentar
Posting Komentar