Catatan Akhir Tahun 2025: Semua Pasti Berlalu
Sudah menjadi kebiasaan (lebih ke
kewajiban sih hahaha) jika di akhir tahun saya akan menulis catatan singkat. Sudah
beberapa tahun, catatan ini menjadi satu-satunya tulisan yang diupload di blog
ini tiap tahunnya. Ya, sebagai pengingat tentang apa yang terjadi di tahun ini.
Setidaknya ada arsip saya menulis sejak remaja. Saya juga kadang sok piye dengan
tulisan waktu belum punya ktp dulu. Seiring perjalanan waktu, corak tulisan
saya seperti berubah. Mungkin sudah terpengaruh ilmu kehidupan dan blantika
dunia persilatan hahaha.
Oke kembali ke catatan akhir
tahun. Judul tulisan ini terinspirasi dari postingan Dr. Zulkieflimansyah
mantan gubernur NTB. Memang saya mengidolakan beliau. Selain latar belakangnya
yang ekonom, beliau juga concern di dunia pendidikan dengan mendirikan PAUD
sampai universitas. Bagi saya pendidikan dan ekonomi ini penting. Ya seperti
bahan bakar peradaban lah. Melalui pendidikan kita bisa memperbaiki ekonomi,
dengan ekonomi pula kita bisa mengusahakan pendidikan yang lebih baik. Makanya
sepertinya cocok juga jika anak pendidikan bersanding dengan anak ekonomi
hahaha.
Postingan Dr Zul di Facebook
selalu lewat beranda saya. Ada satu waktu, beliau mengunggah postingan, namun
saya malah tertarik dengan backgroundnya. Di belakang foto beliau bersama
rekan-rekan, terpampang nyata tulisan dalam bahasa Inggris, "this too
shall pass". Di bawahnya ada terjemahan nya. Semua pasti berlalu.
Seketika saya mbatin, wah cocok juga ini kalau dijadikan judul catatan akhir
tahun 2025.
Semua pasti berlalu. Bisa juga
berlalu lalang. Masalah datang dan berlalu, orang perorang si A si B datang dan
berlalu, tentu saja gaji juga datang dan berlalu hahaha. Jika hidup ini adalah
perjalanan, maka kita akan melalui berbagai terminal tempat kita berhenti dan
singgah lalu melanjutkan perjalanan. Hal tersebut mengingatkan pada wahyu Allah
di Al Insyirah ayat 7. "Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” Jika sudah
selesai urusan dengan A ya mari kita menuju pada urusan B dan seterusnya. Selanjutnya, ayat 8 berbunyi Wa ila robbika farghob" yang artinya adalah "dan
hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap". Hal tersebut mengingatkan
jika semua yang kita usahakan kita serahkan kembali kepada Allah Ta’ala untuk
hasilnya. Yang terpenting kita sudah mengusahakan yang terbaik.
Semua pasti berlalu. Kedatangan
dan kepergian merupakan hal yang biasa. Setiap pertemuan pasti akan diakhiri
dengan perpisahan. Entah sehabis itu akan bertemu lagi atau tidak. Kesenangan
dan sebaliknya akan bersalin rupa. Tidak ada yang abadi. Semua hanyalah
kesementaraan.
Mungkin bila kita kaji lebih jauh
(lhah ini bahasanya Ebiet G Ade), semua yang ada di dunia ini sifatnya
kesementaraan. Sedih sementara, senang juga sementara. Perasaan datang silih
berganti bergantung pada suasana hati yang kita pegang kendali. Kalau istilah
kata dari Ki Ageng Suryomentaram ya mulur mungkret. Hal tersebut
berkaitan dengan kebahagiaan Jika mencapai hal yang diinginkan, manusia
cenderung memiliki kebahagiaan akan berkembang (mulur). Namun jika
keinginannya tidak terpenuhi, hatinya akan kecewa (mungkret).
Seperti halnya klub sepak bola, ada
waktunya untuk menang. Tapi itu sementara, sekali waktu juga mengalami
kekalahan. Chairil mendeskripsikan nya dengan kata menunda kekalahan. Kalau
lagi menang ya nanti pasti tiba saatnya juga untuk kalah. Ya kalau lagi di atas
tidak perlu terlalu jumawa sementara jika lagi di bawah juga jangan terlalu
kecewa.
Dalam perjalanan hidup,
kesementaraan seharusnya membuat kita lebih mawas diri. Apa yang mau
disombongkan dari kehidupan yang fana ini. Hari ini sehat, besok kita bisa jadi
mengalami hal yang sebaliknya. Hari ini sempit, besoknya kita diberi kelapangan
oleh yang Maha Kuasa. Ingat kata bang Iwan bahwa dunia sekadar mampir dan
gemerlapnya menyilaukan. Pada akhirnya kita kan menyingkir.
Makanya saya kadang heran juga
dengan tokoh yang diberi kuasa, merasa seolah-olah kekuasaan itu selamanya.
Mereka bertindak sedemikian rupa tanpa khawatir adanya pengadilan yang abadi.
Pemilik kuasa harus ingat, jika waktunya sudah tiba maka kekuasaan tersebut
akan dicabut dan tidak ada lagi yang mampu menghentikan hal tersebut. Saat itu
terjadi, semua yang dulu dibanggakan akan sirna.
Kita tentu tahu pemimpin yang
begitu berkuasa, saat turun tahta menjadi ditinggalkan pendukung yang dulu
memujanya. Tidak ada lagi panggung, tidak ada lagi gemerlap, tidak ada lagi
sorot. Semua menjadi sepi, sunyi, dan sendiri.
Melalui postingan ini saya
mengingatkan kepada diri sendiri di tahun-tahun mendatang jika semua pasti
berlalu. Setiap masalah seruwet apapun itu pasti bisa diurai dan akan berlalu. Semua
ada jalan dan penyelesaiannya. Jadi tak perlu terlalu bersedih ataupun riang
gembira. Ini sudah diingatkan Dab Pandu usia milenial kepada Dab Pandu usia
life begin at forty wkwkwkw.
Pada akhirnya. Semua pasti
berlalu. Termasuk juga 2025. Semua kenangan, catatan, memori, dan lain
sebagainya di tahun ini saya kumpulkan untuk kemudian ditutup. Tahun depan kita
buka dengan kata-kata Chairil: waktu jalan aku tidak tahu apa nasib waktu…
Selesai sudah
Adios Amigos
Muchas Gracias
Dab Pandu
Komentar
Posting Komentar